Pertanyaan ini yang membuat saya kemudian terdorong untuk sharing di
artikel ini, karena terdapat semacam persepsi di masyarakat awam bahwa
pasar modal hanya diperuntukkan bagi pemain besar atau istilahnya pemain
kelas kakap. Sementara jika Anda hanya memiliki modal, katakanlah Rp 2
juta, 5 juta, atau 10 juta, jangan harap untuk bisa sukses di pasar
modal. Benarkah demikian? Meskipun persepsi ini jelas-jelas keliru,
namun persepsi inilah yang masih banyak melekat di masyarakat awam.
Oke untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan coba untuk menggambarkan
nya dengan sebuah cerita. Ada seorang ayah yang memiliki dua orang anak
laki-laki. Anaknya yang sulung berusia 17 tahun (berarti sudah sekitar
SMA), sementara adiknya yang bungsu berusia 10 tahun (sekitar kelas 4
SD). Sang Ayah memberikan tugas kepada kedua anaknya untuk membantu
memindahkan batu-bata dari mobil pick up ke halaman rumah. Si bungsu
membawa paling banyak tiga buah batu bata sekali angkut, sementara si
sulung mampu membawa delapan batu bata sekaligus. Dalam waktu sekitar 15
menit, di bungsu hanya mampu membawa 100 bata, sementara si sulung bisa
membawa sekitar 300 bata.
Satu jam kemudian, datang lah pengiriman batu-bata di mobil pick up yang
kedua. Si Bungsu, yang tidak senang karena merasa kalah oleh kakak nya,
kali ini mencoba lebih keras. Si Bungsu mencoba menyaingi kakaknya
dengan membawa 8 bata sekaligus. Dan apa yang terjadi? Belum sampai lima
langkah dari pick up, tangan si Bungsu mulai gemetaran dan batu-bata
itu pun jatuh ke tanah dan hancur berantakan. Bukannya mempercepat
pekerjaan, si bungsu malah merusak batu-batanya.
Cerita di atas mungkin hanya sekedar ilustrasi. Namun pesan moral yang
ingin saya sampaikan di sini adalah ketika si Ayah memberikan tugas
untuk memindahkan batu-bata, mulai lah dengan hanya membawa 1 bata saja.
Apabila 1 bata terasa ringan, maka mulailah dengan mengangkat 2 bata.
Begitu pula apabila 2 bata juga masih terasa ringan, mulai lah dengan
mengangkat 3 bata, demikian seterus nya sampai batas kekuatan mengangkat
batu-bata. Mungkin niat si bungsu baik, agar pekerjaannya menjadi lebih
cepat selesai. Namun jika batas kekuatan si bungsu hanya sampai 3 bata,
maka sebaiknya jangan dipaksakan untuk membawa lebih dari 3 bata
apalagi langsung membawa 8 bata. Bukannya mempercepat pekerjaan, si
bungsu malah menghancurkan bata tersebut.
Hal yang sama juga berlaku di pasar modal. Sekilas mungkin berinvestasi
dengan modal Rp 1 Miliar akan sama dengan modal Rp 10 juta. Toh yang
penting ngerti analisa, ngerti teori nya. Namun pada praktiknya akan
jauh berbeda. Apa nya yang berbeda? Beban psikologis nya (kalau contoh
cerita di atas tadi, yang membedakan adalah beban fisik nya). Jika Anda
terjun di pasar modal dengan modal langsung Rp 1 Miliar, mungkin Anda
belum sanggup menahan beban psikologis dengan mengelola dana sebesar
itu. Dengan dana investasi sebesar Rp 1 Miliar, katakanlah investasi
atau trading Anda sedang turun 10% dari modal Anda tadi, maka beban
psikologis Anda adalah kerugian sebesar Rp 100 juta. Apakah Anda sanggup
menahan beban psikologis kerugian Rp 100 juta?
Bandingkan apabila Anda memulai dengan dana Rp 10 juta, apabila
investasi atau trading Anda sedang turun 10% dari modal, maka beban
psikologis Anda adalah kerugian “hanya” sebesar Rp 1 juta. Dan, seperti
cerita batu bata di atas tadi, ketika Anda tidak mampu menahan beban
psikologis di pasar modal, maka bisa jadi Anda akan menjadi stress
karena belum sanggup menahan pressure sebesar itu. Dan perlu Anda
ketahui juga, bahwa ketika seorang investor tidak mampu menahan beban
psikologis, biasanya (bahkan kemungkinan besar) akan banyak salah
mengambil keputusan, karena dalam situasi menahan beban psikologis yang
berat, pikiran tidak bisa berpikir jernih. Sementara jika Anda mampu
menahan beban psikologis tersebut dalam batas kemampuan Anda, Anda akan
lebih enjoy dan tanpa tekanan dalam mengelola dana tersebut, sehingga
kemungkinan besar Anda akan cukup sukses dalam mencetak profit di pasar
modal.
Apabila investasi Anda berjalan lancar, Anda mulai bisa menambah modal
Anda (seperti hal nya menambah batu bata yang di bawa). Katakanlah dari
modal Anda Rp 10 juta, anda bisa tambah menjadi Rp 20 juta, 30 juta, 40
juta, dan seterusnya sampai ratusan juta atau mungkin miliaran rupiah.
Lakukan secara perlahan-lahan sambil Anda mengetes mental Anda sendiri.
Apabila Anda menganggap 50 juta sudah besar untuk saat ini, maka di
level itulah batas kemampuan yang Anda mampu tanggung. Jangan memaksakan
diri. Seperti hal nya kemampuan fisik yang membutuhkan waktu, kemampuan
mental dan psikologis juga membutuhkan waktu bertahun-tahun seiring
bertambahnya jam terbang Anda di pasar modal.
Lalu kenapa banyak investor kecil yang gagal di pasar modal? Masalahnya
bukan pada besar nya dana investasi yang dikelola, namun lebih kepada
action yang dilakukan dari dana investasi tersebut. Contoh seorang
investor dengan dana investasi Rp 10 juta, seluruh dananya dimasukkan ke
dalam satu saham. Dalam waktu sebulan sahamnya naik 10%, berapa
keuntungannya? Yaa tentu saja hanya Rp 1 juta. Bagi si investor, gain
segitu jelas terlihat kecil apalagi harus menunggu 1 bulan (belum cukup
untuk membayar pengeluaran bulanan 10 juta misalkan). Karena itulah,
investor kecil ini jadi nya lebih suka memperhatikan saham-saham
gorengan yang bisa melejit dalam waktu singkat, dengan harapan mereka
bisa lebih cepat kaya dalam waktu singkat. Dalam pasar saham memang
selalu ada saja saham-saham seperti itu yang bisa naik 10% – 20% dalam
waktu singkat. Namun masalahnya, saham ajaib seperti itu juga bisa turun
10% – 20% dalam waktu singkat juga. Nah di sinilah investor kecil tadi
terjebak menjadi seorang spekulan. Beberapa di antara mereka mungkin
cukup sukses meningkatkan modal nya hinga berkali-kali lipat, namun
kejadian yang lebih banyak terjadi adalah mereka akhirnya tidak
memperoleh apa-apa bahkan malah akhirnya mengalami kerugian. Hal ini lah
yang kemudian banyak sekali menciptakan persepsi bahwa saham adalah
judi.
Bandingkan dengan investor yang mengelola dana, katakanlah Rp 1 miliar.
Dengan kenaikan saham yang sama yaitu 10% dalam waktu 1 bulan, maka
profit nya sudah mencapai Rp 100 juta. Investor kakap ini biasanya sudah
memahami risiko bahwa apabila bermain di saham gorengan, bukannya
untung Rp 100 juta bisa jadi malah rugi Rp 100 juta. Oleh karena itu,
investor kakap ini tidak mau menjadi seorang spekulan. Biasanya pula,
para investor kakap ini secara usia dan psikologis sudah jauh lebih
matang dibanding investor kecil, sehingga mereka lebih bijak dan
hati-hati dalam mengelola portofolionya dan alhasil, mereka pun sukses
di saham.
Jadi, balik lagi ke pertanyaan apakah investor kecil ini dapat bersaing
dengan investor besar? Saya akan menjawab bahwa kesuksesan Anda di pasar
saham tidak ditentukan oleh berapa modal kelolaan yang anda miliki
untuk berinvestasi di pasar saham, melainkan ditentukan oleh cara anda
dalam mengelola portofolio anda. Saya pun ketika awal berinvestasi juga
memulai dengan modal minimal Rp 10 juta (karena waktu tahun 2009, modal
setoran awal minimum adalah Rp 10 juta). Kemudian, secara berkala saya
selalu menyisihkan sebagian dari gaji saya untuk menambah modal
investasi saya di pasar saham. Itu saya lakukan secara konsisten.
Sebagai penutup Artikel ini, apabila Anda saat ini masih mengelola dana
investasi kecil, inilah saat nya Anda melatih mental Anda. Seiring
berjalannya waktu, mental Anda akan semakin kuat untuk menahan beban
psikologis di pasar modal. Ketika Anda sudah lebih kuat, mungkin itu
sudah waktunya Anda untuk boleh menambah modal investasi Anda.
RE-SHARE dari :
http://rivankurniawan.com/2017/03/27...i-pasar-modal/
Untuk Informasi Investasi di Pasar Saham
by MIRAE ASSET SEKURITAS
FINA FATMASARI
Office Education
PT. Mirae Asset Sekuritas Indonesia
Kawasan Mega kuningan
Kantor Taman A9, Unit A3-A Lt. 3 Jakarta Selatan 12950
Mobile: +62-812-8407-6706 Pin: 7D899672
Email: fina.fatmasari@miraeasset.co.id